KEMBALI BERSAMA PROF. DA’I: MEMBENTUK MASA DEPAN UMS

Pada saat banyak institusi pendidikan masih bergulat dengan transisi digital dan tantangan pasca-pandemi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) justru melangkah mantap dengan kesinambungan kepemimpinan. Prof. Dr. Muhammad Da’i, S.Si., M.Si., Apt., kembali dipercaya menjabat sebagai Wakil Rektor II untuk periode 2025–2029, mengawasi bidang keuangan, investasi, dan aset. Kembalinya Prof. Da’i tidak hanya menjadi pengukuhan atas kinerjanya di periode sebelumnya, tetapi juga membuka babak baru dalam perjalanan transformasi infrastruktur dan tata kelola aset universitas yang kini menjelma menjadi salah satu perguruan tinggi swasta paling dinamis di Indonesia.

Membangun dari Dasar: Visi dan Fondasi Kinerja

Di balik bangunan modern, sistem informasi yang tertata, dan ruang belajar futuristik, ada kerja panjang dan sistematis dari unit yang jarang disebut dalam headline berita kampus: Biro Aset Universitas (BAU). Sebagai unit pendukung akademik, BAU memiliki tugas yang secara teknis terdengar sederhana—penyediaan dan pengelolaan sarana prasarana. Namun dalam praktiknya, peran BAU berada di jantung denyut operasional kampus: dari ruang kelas digital hingga lift untuk mahasiswa difabel, dari sistem informasi aset hingga pembangunan masjid fakultas. Semua fasilitas yang mendukung pembelajaran, bukan hanya soal estetika, tapi soal akses, kualitas, dan keadilan.

SMART CLASS dan Infrastruktur Inklusif

Di tahun-tahun awal kepemimpinannya, UMS masih berkutat dengan pembelajaran daring akibat pandemi. Tapi tantangan ini dijawab dengan pendekatan teknologi yang progresif: pada 2023, 42 Smart Class diluncurkan—ruang belajar hybrid yang dilengkapi kamera pelacak dosen, layar interaktif, hingga alat perekam otomatis. Ini bukan lagi tentang bisa daring atau tidak. Tapi bagaimana membuat daring terasa personal. Tak berhenti di situ, BAU juga memprioritaskan fasilitas bagi mahasiswa penyandang disabilitas. Ramp akses, lift panoramic, dan toilet difabel kini tersedia di hampir setiap gedung baru. Gedung-gedung seperti Farmasi, A, D, dan I bahkan menjadikan lift sebagai elemen arsitektural yang memperindah dan mempermudah mobilitas sekaligus.

Digitalisasi Aset: Menuju Transparansi Total

Pada saat banyak institusi masih bertumpu pada pencatatan manual, UMS melangkah lebih maju dengan peluncuran sistem myaset.ums.ac.id—portal pengelolaan aset berbasis web yang memungkinkan pelacakan, pengadaan, hingga pelelangan aset secara transparan. Namun tidak semua berjalan mulus. Target integrasi sistem informasi hanya tercapai 80% dari sasaran akhir 100% di 2025. “Kami realistis, membangun sistem bukan hanya soal perangkat lunak. Ini soal budaya kerja,” ujar seorang staf BAU.

Mengubah Wajah Kampus

Salah satu tonggak besar dalam lima tahun terakhir adalah proyek Gedung Griya Mahasiswa, yang mengubah wajah sekretariat organisasi mahasiswa dari ‘kumuh’ menjadi representatif dan modern. Tak hanya itu, berbagai proyek strategis seperti Gedung Profesi, Masjid FKG, hingga Public Space untuk mahasiswa menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan tidak lagi sektoral, tetapi menyentuh ekosistem kampus secara menyeluruh. Gedung-gedung yang sedang dibangun saat ini, seperti Lab School FKIP, GOR FKIP POR, dan Gedung FEB 8 lantai, menjadi simbol bagaimana universitas memosisikan infrastruktur sebagai investasi jangka panjang—bukan sekadar pengeluaran fisik.

Refleksi dan Tantangan Selanjutnya

Meskipun pencapaiannya impresif, Prof. Da’i dan BAU tidak menutup mata terhadap tantangan yang tersisa. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dinilai belum maksimal karena belum adanya unit pengawasan khusus. Standar pengelolaan sarana prasarana pun dinilai masih tumpang tindih dan perlu perombakan menyeluruh. Namun dengan kepemimpinan yang berkelanjutan, dan warisan capaian periode sebelumnya, tantangan tersebut bukan alasan untuk stagnasi—justru menjadi batu loncatan menuju kesempurnaan manajemen aset yang profesional, islami, dan berorientasi masa depan.

Epilog: Sebuah Kepemimpinan yang Menjaga Arah

Saat banyak perubahan datang dan pergi, keberlanjutan menjadi aset paling berharga. Prof. Da’i kembali ke posisi strategis bukan hanya karena loyalitasnya terhadap sistem, tapi karena hasil kerjanya telah membentuk struktur kampus secara nyata—dari beton hingga bit, dari fisik hingga sistem. Di balik layar, Biro Aset Universitas tetap bekerja cerdas. Dan kali ini, dengan lebih banyak pengalaman, data, dan keyakinan, UMS bersiap menulis babak baru dalam sejarah pengelolaan aset pendidikan tinggi Indonesia. Mari beraksi: Let’s Roll!
(ayn618)