STOP BUNUH KUCING DI UMS!

Kucing sekarat terjebak di jendela lantai 5 Gedung Induk Siti Walidah UMS

Sebagai civitas akademika, mari kita semua untuk melihat segala sesuatu berdasarkan fakta, data, dan akibat jangka panjang yang bisa terjadi. Kucing liar yang berkeliaran di lingkungan kampus, memang kadang tampak lucu dan mengundang rasa empati. Banyak dari kita yang merasa terpanggil untuk memberi mereka makan sebagai wujud kasih sayang. Namun, mari kita telaah secara ilmiah dan rasional, kebiasaan ini sesungguhnya dapat memberikan dampak negatif terhadap kelangsungan hidup mereka sendiri.

Kampus Bukan Habitat Alami Kucing Liar. Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) adalah kampus yang terletak di tengah kota. Penuh lalu lalang kendaraan. UMS bukanlah lingkungan yang secara ekologis ideal bagi kucing liar. Menurut ilmu ekologi, setiap makhluk hidup memiliki habitat alami yang mampu menyediakan kebutuhan pokoknya secara berkelanjutan — seperti makanan, tempat berlindung, dan kesempatan untuk berkembang biak (Begon et al., 2006). Ketika kucing liar terbiasa diberi makan oleh manusia, mereka mengalami domestifikasi secara tidak sengaja, yakni kehilangan naluri dan kemampuan alami mereka untuk berburu dan bertahan hidup mandiri. Studi menunjukkan bahwa kucing yang bergantung pada makanan manusia akan menurunkan kemampuan berburu mereka hingga 70% (Bradshaw et al., 2012).

Ketergantungan pada manusia berakibat fatal saat manusia tidak hadir memberi makan, misalnya saat libur panjang kampus. Tanpa kemampuan berburu yang memadai, kucing liar ini mengalami kelaparan yang akhirnya menyebabkan kematian. Ketergantungan berujung pada kematian.

Selain itu, adaptasi fisik mereka juga berubah. Kucing-kucing tersebut menjadi kurang gesit, kurang cekatan dalam memanjat dan melompat, sehingga mereka rentan terjebak di area yang sulit dijangkau atau berbahaya. Domestifikasi menghilangkan naluri bertahan hidup yang krusial (Turner, 2011).

Sebagai manusia berakal, kita bisa menunjukkan kepedulian dengan cara yang benar dan berkelanjutan. Terdapat beberapa cara bijak menyayangi kucing liar. Pertama adalah interaksi tanpa memberi makan. Memberi perhatian dan kasih sayang lewat belaian dan sentuhan tanpa memberi makan secara rutin akan menghindarkan kucing dari ketergantungan berlebih pada manusia.

Jika ingin membantu secara nyata, cara kedua adalah adopsilah kucing liar tersebut ke rumah anda. Berikan perawatan lengkap, makanan bergizi, dan lingkungan yang aman. Ini jauh lebih baik daripada membiarkan mereka tergantung pada makanan manusia di kampus, lalu mencampakkan mereka begitu saja ketika sibuk magang, penelitian, atau liburan. Jika sayang, bawa pulang!

Koordinasi dengan organisasi kesejahteraan hewan adalah cara terakhir yang bisa rekan-rekan lakukan. Banyak komunitas yang melakukan program sterilisasi, vaksinasi, dan penempatan ulang kucing ke habitat yang lebih sesuai.

Memberi makan kucing liar di lingkungan kampus tanpa pengelolaan yang tepat bukanlah tindakan kasih sayang yang bijak. Secara ilmiah dan ekologis, tindakan tersebut menyebabkan ketergantungan, kehilangan naluri bertahan hidup, dan kematian ketika makanan dari manusia tidak tersedia.

Mari kita gunakan akal dan pengetahuan untuk menjaga keseimbangan alam dan kehidupan makhluk ciptaan Allah SWT. Sayangi kucing liar dengan cara yang bertanggung jawab, jangan hanya berdasarkan perasaan semata. Stop bunuh kucing di UMS dengan kasih sayang yang salah kaprah.

Semoga tulisan ini memberi pencerahan bagi kita semua, dan semangat untuk menjaga kehidupan makhluk kecil dengan cara yang tepat, ilmiah, dan beretika.
(ayn618)

Referensi:

Begon, M., Townsend, C. R., & Harper, J. L. (2006). Ecology: From Individuals to Ecosystems. Wiley-Blackwell.

Bradshaw, J. W. S., Horsfield, G. F., & Allen, J. A. (2012). Feral cats and their impact on wildlife. Applied Animal Behaviour Science.

Turner, D. C. (2011). The Domestic Cat: The Biology of Its Behaviour. Cambridge University Press.