Pengakuan internasional bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Ia dibangun dari kerja kolektif yang konsisten—dan sering kali, kerja itu berada jauh dari ruang kelas. Ketika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bersiap menghadapi asesmen akreditasi FIBAA untuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada 23–24 Juli 2025, satu unit bergerak di balik layar memastikan semua berjalan lancar: Biro Aset Universitas (BAU).
Akreditasi FIBAA—lembaga asal Jerman yang menilai standar pendidikan tinggi—bukan hanya soal kurikulum. Mereka menilai bagaimana kampus berfungsi secara nyata. Bagaimana ruang kelas digunakan, apakah mahasiswa merasa aman, dan apakah semua kalangan—termasuk penyandang disabilitas—mendapatkan hak yang sama untuk belajar dan bergerak. Inilah aspek dimana kualitas bertemu detail.
BAU telah memetakan semua titik yang akan dikunjungi asesor: Gedung SW (Lt. 7), Gedung BPH, Gedung C & CC, Perpustakaan Pusat, Pesma, Griya Mahasiswa, hingga MMC. Semua dipastikan dalam kondisi prima—tidak hanya bersih dan fungsional, tapi juga aman secara K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja).
Salah satu perhatian penting: sistem fire alarm dan evakuasi darurat. BAU memastikan semua fire alarm aktif, dapat berfungsi, dan memiliki jalur evakuasi yang jelas dan bisa diakses. Tak kalah penting, fasilitas untuk penyandang disabilitas: jalur ram dan akses kursi roda, toilet ramah difabel, serta lift yang menunjang mobilitas pengguna dengan kebutuhan khusus telah dicek dan diperbaiki jika perlu.
“Ini bukan hanya soal standar akreditasi. Ini komitmen UMS terhadap inklusi dan keselamatan,” ujar Hasyim Asy’ary, S.T. M.T. selaku Kepala Bagian Sarana Prasarana BAU.
Proses akreditasi akan berlangsung pada 24 Juli 2025. FIBAA akan berbicara langsung dengan para stakeholder—tanpa interpreter untuk mengecek validitas dokumen. Fokusnya: pengalaman mereka sebagai pengguna sistem pendidikan.
-
08.45 – 10.15 WIB: Pendidikan Akuntansi, Pendidikan Matematika, PGSD di Gedung SW Lt. 7
-
11.00 – 12.30 WIB: Pendidikan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris di Gedung BPH
Setiap stakeholder akan berbicara dengan asesor . Tidak ada pengarahan khusus—yang diinginkan FIBAA adalah cerita otentik dan sidak keadaan fasilitas FKIP secara murni.
BAU tidak hanya mengatur ruangan. Mereka menugaskan tim untuk standby di titik-titik strategis selama asesmen. Jika terjadi gangguan listrik, perubahan ruangan mendadak, atau kendala teknis lainnya—respon harus cepat, efisien, nyaris tak terlihat. Di titik ini, infrastruktur bukan hanya soal bangunan—tapi soal kepercayaan.
Bagi UMS, FIBAA adalah salah satu pintu menuju pengakuan global. Bagi BAU, ini adalah pembuktian bahwa profesionalisme tidak hanya hadir di ruang akademik, tapi juga dalam setiap saklar lampu yang menyala, setiap alarm yang bekerja, dan setiap akses yang ramah untuk semua kalangan.
Dalam dunia yang terus bergerak menuju standar inklusif dan aman, BAU memastikan bahwa UMS tidak hanya siap—tapi memimpin arah perubahan. (ayn618)
