LIFT FKIP – BUKAN SEKADAR LIFT

Di kampus yang katanya mencetak pendidik masa depan, ada kenyataan yang selama ini luput dipikirkan. Tangga yang tinggi. Kelas di lantai dua atau tiga. Mahasiswa yang tak bisa menjangkaunya, hanya karena mereka berbeda secara fisik.

Lalu satu hari, sebuah lift dibangun. Di gedung Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Diam-diam, tanpa seremoni besar. Tapi ia mengubah banyak hal.

Ini bukan soal mesin pengangkat. Ini tentang siapa saja yang selama ini terpaksa diam, karena struktur tidak memberi ruang untuk bergerak.

Pendidikan yang adil bukan berarti menyamaratakan semua hal. Tapi memastikan bahwa semua orang—tanpa kecuali—punya akses yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi.

Selama ini, akses itu tidak sepenuhnya setara. Mereka yang menggunakan kursi roda harus bergantung pada bantuan orang lain, hanya untuk sekadar naik ke ruang kuliah.

Maka ketika FKIP membangun lift, itu bukan sekadar renovasi fisik. Tapi perubahan cara berpikir. Dari belas kasihan menjadi keberpihakan. Dari kesenjangan menjadi keadilan.

Kita sering bicara soal kampus inklusif. Tapi inklusi bukan jargon. Ia butuh bukti. Butuh kebijakan. Butuh langkah nyata.

Satu lift mungkin terlihat sederhana. Tapi ia adalah simbol yang kuat: bahwa institusi ini mau mendengar. Mau melihat yang selama ini tak terlihat. Mau bergerak, walau terlambat.

Dan ya, lebih baik terlambat memperbaiki, daripada terlalu lama membiarkan.

FKIP adalah tempat mencetak guru. Dan guru, adalah agen perubahan. Tapi sebelum mengubah dunia luar, kampus ini harus terlebih dulu mengubah dirinya sendiri.

Karena bagaimana mungkin kita ingin mendidik anak-anak tentang toleransi dan keadilan, jika kampus kita sendiri belum ramah pada yang berbeda?

Lift ini bukan hanya memudahkan mahasiswa difabel. Ia menjadi pengingat bagi kita semua: bahwa sistem pendidikan harus berpihak pada mereka yang paling sering dilupakan.

Ini bukan cerita tentang fasilitas baru. Ini cerita tentang kesetaraan yang mulai dibangun, pelan-pelan, dari dasar.

Satu lift. Satu gedung. Tapi dampaknya jauh lebih luas dari itu.

Karena yang dibangun sebenarnya bukan hanya alat, tapi harapan. Bahwa kampus ini, perlahan, sedang belajar untuk menjadi lebih adil.

Dan mudah-mudahan, kita semua—bukan hanya FKIP—juga ikut belajar. (ayn618)