
Hujan selalu datang membawa pesan. Ia mengingatkan kita bahwa alam bekerja dengan logikanya sendiri: air selalu mencari jalan untuk kembali ke tempat yang lebih rendah. Bila jalurnya tersedia, ia mengalir tenang. Bila tersumbat, ia menggenang—dan kita menyebutnya banjir.
Beberapa waktu terakhir, parkiran Gedung CC berubah fungsi setiap kali hujan turun.
Yang seharusnya menjadi ruang parkir, menjelma jadi kolam dadakan.
Mahasiswa menepi seperti menunggu perahu lewat, sepatu basah, dan motor mengeluh kedinginan. Pertanyaannya sederhana: kenapa air tak pulang ke salurannya?
Jawabannya bukan sekadar teknis.
Saluran kita tersumbat oleh hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk: daun gugur, tanah terbawa hujan, sampah seukuran genggaman, dan kebiasaan menunda pembersihan. Lama-lama, sumbatan kecil berubah jadi masalah besar. Sama seperti hidup—ketika hal kecil tidak dibereskan, ia menumpuk menjadi beban.
Maka, normalisasi saluran air Gedung CC bukan hanya proyek pemeliharaan.
Ini adalah cara kampus belajar dari alam: bahwa sistem apa pun—saluran air, organisasi, bahkan hubungan antar manusia—perlu dibersihkan secara berkala agar tetap sehat. Yang diperbaiki bukan hanya fisiknya, tetapi juga kesadaran kolektif untuk merawat.
PT Gotong Royong bersama tim lapangan, termasuk M. Redwan Apriyanto dan Sunarna, turun menangani persoalan ini. Mereka tidak sekadar menggali atau mengganti pipa. Mereka memulihkan aliran, mengembalikan arah air, agar ia kembali memahami tugasnya: mengalir, bukan diam.
Anggaran, termin pembayaran, hingga masa garansi hanyalah administrasi yang mengiringi prosesnya. Yang lebih penting adalah pelajaran di baliknya: merawat lebih murah daripada menyesal. Setelah normalisasi selesai, tugas berikutnya adalah disiplin—menjaga agar saluran yang sudah bersih tidak kembali tersumbat.
Karena sejatinya, yang kita hadapi bukan banjir.
Yang kita lawan adalah lupa.
Lupa bahwa kampus ini adalah ruang hidup bersama, bukan ruang pakai lalu tinggalkan. Kita semua punya peran kecil untuk memastikan aliran tetap lancar—dari tidak membuang sampah sembarangan, hingga rutin melakukan pengecekan.
Dengan normalisasi ini, kita menanam harapan sederhana namun penting:
Parkiran Gedung CC kembali menjadi parkiran, bukan kolam musiman.
Hujan boleh turun kapan saja, tetapi aliran harus tetap menemukan jalannya.
Pada akhirnya, merawat aliran adalah merawat keberlanjutan.
Jika air saja tahu ke mana ia harus pergi, sudah semestinya manusia tahu bagaimana menjaga tempat yang ia tinggali.
(ayn618)
