Di dunia yang bergerak cepat, kadang kita lupa bahwa ruang bukan sekadar tempat. Ia adalah wadah yang menyimpan energi, cerita, dan harapan. Maka ketika Biro Administrasi Umum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memutuskan membangun sebuah coworking space untuk Fakultas Ilmu Kesehatan, itu bukan hanya soal konstruksi. Itu adalah pernyataan sikap.
Ini tentang bagaimana kampus tidak hanya mendidik, tapi juga mendengarkan zaman.
Coworking space bukan hal baru. Tapi di tangan orang yang benar, ia bisa menjadi ruang yang hidup. Bukan sekadar tempat duduk, colokan, atau papan tulis digital—tapi ruang yang mengajak orang berbicara, berpikir, dan merasa terlibat.
Mahasiswa dari berbagai program studi—Keperawatan, Gizi, Fisioterapi—tak lagi duduk dalam sekat-sekat kurikulum yang kaku. Mereka mulai belajar merayakan perbedaan pendekatan, menyatukan bahasa tubuh, bahasa nutrisi, dan bahasa jiwa dalam pelayanan kesehatan yang holistik.
Mungkin ini yang disebut zaman sebagai kolaborasi. Tapi bagi kita, ini adalah pengingat bahwa ilmu itu tumbuh bukan di kepala yang sendiri-sendiri, tapi di hati yang saling membuka.
Ruang yang dibangun dengan kesadaran akan keindahan dan keberlanjutan akan menciptakan atmosfer yang menyembuhkan sebelum dokter sempat bicara. Konsep terbuka, pencahayaan alami, sirkulasi udara yang lembut—semua adalah bagian dari narasi bahwa kita ini makhluk yang terhubung, bukan hanya dengan teknologi, tapi juga dengan alam.
BAU UMS tampaknya tak sedang membangun gedung. Mereka sedang menyulam masa depan, satu bata demi bata, dengan napas yang panjang dan mata yang menatap jauh ke depan.
Di era yang serba cepat, orang sibuk mengejar output. Tapi pendidikan, terutama di bidang kesehatan, tak bisa diburu dengan kecepatan. Ia butuh ruang yang memberi napas, tempat bertumbuhnya rasa empati, keberanian, dan integritas.
Coworking space ini, jika dimaknai dalam, bukanlah proyek fisik. Ini adalah proyek jiwa. Tempat di mana mahasiswa bisa meragu dan bertanya, berdiskusi tanpa takut salah, menciptakan tanpa harus langsung sempurna.
Karena dunia kesehatan bukan soal tahu paling banyak, tapi peduli paling dalam. Jika kamu pikir ini hanya ruang kerja, mungkin kamu perlu duduk di sana sejenak—dan diam. Biarkan ruang itu bicara. Karena kadang, ruang tahu lebih banyak dari kita. (ayn618)
