Di Universitas Muhammadiyah Surakarta, orang tidak hanya belajar dari buku, ruang kelas, atau dosen. Kadang-kadang, kita juga belajar dari kamar mandi yang rusak, lift yang belum jalan, dan air minum yang belum layak teguk. Semua itu bukan sekadar fasilitas. Ia adalah bagian dari pendidikan. Pendidikan kesadaran. Pendidikan tanggung jawab.
Maka ketika Biro Aset Universitas (BAU) UMS menggelar Rapat Kerja Tahunan, itu bukan sekadar acara birokrasi tahunan. Itu adalah momen untuk menengok: sudah sejauh mana kita membangun kampus ini—bukan cuma gedungnya, tapi juga ruh di baliknya.
Pak Kabiro membuka rapat dengan tegas tapi teduh: “Prestasi yang sudah kita kerjakan, jangan hanya kita simpan. Kita laporkan. Tanggal 7 kita harus sudah siap.” Bukan karena formalitas, tapi karena tanggung jawab harus dicatat, dipertanggungjawabkan, dan direncanakan lagi. Supaya hidup kampus ini tidak stagnan. Supaya ada arah.
Lift, Kamar Mandi, dan Air Minum: Masalah Sehari-hari yang Tak Sepele
Dalam rapat itu, ada laporan tentang lift. Sudah terpasang di beberapa gedung. Tapi Gedung H masih belum. Di lantai tiga, Gedung E dan B belum disentuh. Kamar mandi juga begitu. Gedung B, H, F, dan E masih dalam daftar perbaikan. Ini bukan soal kenyamanan semata. Ini soal martabat. Kita tidak bisa bicara peradaban kalau ke kamar mandi saja tidak layak.
Air minum? Belum selesai juga. Sudah dikonsultasikan ke Fakultas Teknik, katanya. Tapi realisasi belum muncul ke permukaan. Maka ada ide: coba pasang filter di salah satu tangki, paling tidak dari satu sumur yang kualitas airnya paling “parah”. Kalau bagus, kita lanjutkan ke semua gedung.
Pak Hasyim menyarankan: “Coba satu ground tank saja dulu. Kita taruh filter sebelum air didistribusikan.” Lalu muncul wacana: apakah kita perlu RO (Reverse Osmosis) di setiap fakultas? Atau cukup galon-galon isi ulang? Mana yang paling efektif? Mana yang paling manusiawi?
Diskusi ini bukan sekadar teknis. Ini cara kampus bertanya pada dirinya sendiri: bagaimana kita memperlakukan mahasiswa dan dosen dengan baik, bahkan dalam hal sesederhana air yang mereka minum?
Api, Evakuasi, dan Perasaan Aman
Masalah keamanan juga dibahas. Fire alarm telah dipasang di hampir semua gedung: A, D, D-Eks BPD, F, B, sebagian H, hingga GM dan Psikologi. Jalur evakuasi sudah dibuat. Titik kumpul juga sudah ditentukan. Tapi lagi-lagi, ini bukan hanya soal alat dan prosedur. Ini soal rasa aman. Karena pendidikan butuh rasa aman. Pikiran tidak bisa tumbuh kalau hati dicekam cemas.
Maka BAU merancang lebih dari sekadar sistem. Mereka sedang menciptakan lingkungan. Tempat di mana mahasiswa bisa belajar tanpa takut, dosen bisa bekerja dengan tenang, dan semua orang merasa dihargai.
Rencana 2025–2026: Jalan Masih Panjang, Tapi Terang
Dalam rencana kerja ke depan, banyak hal disusun. Lift akan dilengkapi. Kamar mandi akan diperbaiki. Sistem air akan diuji. Genset baru akan diadakan. Atap-atap yang lapuk akan diganti. Gedung FEB akan dibongkar dan gudang baru disiapkan. Motor roda tiga akan dibeli. Bahkan sistem tapping kartu untuk gerbang kampus juga akan diterapkan.
Ada rencana besar mengganti lampu jalan dengan tenaga surya. Sebuah langkah kecil menuju kampus yang ramah bumi. Menuju peradaban yang lebih sadar energi.
Ada juga hal-hal “kecil” tapi penting. Peminjaman ruang yang harus bisa otomatis tanpa klik-klik berlebih. Sistem inventaris yang harus disinkronkan. SOP sopir, audit aset dengan iPad, hingga simulasi bencana yang harus rutin dilakukan.
Bukan Sekadar Gedung, Tapi Cermin Jiwa Kampus
Gedung bukan hanya tempat. Ia adalah simbol. Ia adalah bentuk dari niat kita membangun manusia. Lift yang bekerja, kamar mandi yang bersih, air yang layak minum, dan alarm yang menyala—semuanya adalah ungkapan cinta. Cinta kepada mahasiswa. Kepada dosen. Kepada siapa saja yang percaya bahwa pendidikan itu mulia.
BAU tidak sedang membangun kampus. Mereka sedang membangun peradaban. Peradaban yang dimulai dari tempat sederhana: dari kamar mandi, dari tangki air, dari pintu gerbang.
Dan kita semua punya bagian di dalamnya.
(ayn618)
