Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) mencatat sebuah perubahan penting dalam struktur organisasinya. Biro Aset, yang selama ini menjadi salah satu unit pendukung dalam pengelolaan fasilitas kampus, kini resmi ditingkatkan menjadi Direktorat Aset, Sarana dan Prasarana (DASP).
Perubahan nomenklatur ini tidak sekadar bersifat administratif. Ia mencerminkan arah baru dalam tata kelola kampus — arah yang menekankan efisiensi, profesionalisme, serta kesadaran akan pentingnya infrastruktur sebagai fondasi kehidupan akademik. Transformasi ini terjadi di bawah kepemimpinan Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, yang mendorong penyelarasan antara kebutuhan institusi dan dinamika zaman.
Direktorat ini masih dipimpin oleh Taufiq Hidayat, S.E., sosok yang sebelumnya menjabat sebagai kepala Biro Aset. Di bawah kepemimpinannya, DASP diharapkan mampu berperan lebih strategis dalam merawat dan mengembangkan aset fisik kampus, sekaligus mendukung terciptanya ruang-ruang belajar yang aman, sehat, dan berkelanjutan.
Perubahan struktur ini sekaligus memperluas cakupan kerja direktorat. Tidak hanya fokus pada aset dan inventarisasi, DASP kini juga bertanggung jawab atas pengelolaan sarana, prasarana, dan aspek lingkungan kampus. Dalam konteks ekosistem pendidikan tinggi, hal ini menjadi penting: sebuah kampus bukan sekadar lokasi belajar, melainkan organisme yang hidup — tempat bertemunya gagasan, manusia, dan ruang.
Di tengah percepatan perubahan dan kompleksitas dunia pendidikan, transformasi DASP menjadi simbol bahwa UMS tidak hanya bergerak, tetapi juga menata arah. Seperti yang kerap dikatakan: kecepatan tanpa arah hanyalah kebingungan. Maka melalui langkah-langkah semacam ini, universitas sedang meletakkan batu bata menuju masa depan — bukan hanya membangun sistem, tapi juga menyiapkan fondasi peradaban. (ayn618)
