Di balik bangunan yang diam, ada ribuan cerita yang bergerak. Setiap pintu yang tidak bisa dikunci, setiap AC yang tak lagi dingin, atau lampu yang meredup perlahan — semuanya bukan hanya tentang benda, tapi tentang kenyamanan, tentang kehidupan sehari-hari manusia yang menempatinya. Dan di antara semua itu, ada tangan-tangan tak terlihat yang bekerja dalam diam — Biro Aset Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Agustus ini, mereka tidak sedang bersuara, tapi sedang bekerja. Tidak banyak yang tahu, mungkin juga tak ada yang peduli, bahwa lebih dari seratus titik sedang diperbaiki. Mulai dari kursi patah di lantai 3 gedung J, AC rusak di Fakultas Hukum, hingga mata kunci alumunium di ruang dosen teknik kimia. Semuanya tengah disentuh oleh niat baik yang mungkin tak pernah masuk ke dalam kurikulum, tapi menjadi nilai dalam diam: tanggung jawab.
Ini bukan sekadar kerja fisik. Ini kerja merawat peradaban. Karena bangunan tanpa pemeliharaan, ibarat jiwa yang kehilangan doa.
Di Fakultas Teknik, ada tembok yang belang karena paku-paku kenangan. Di Fakultas Psikologi, komputer mati seolah menunggu dihidupkan bukan hanya oleh listrik, tapi oleh perhatian. Di Pondok Shabran, pagar minta ditegakkan kembali — bukan hanya demi keamanan, tapi demi rasa memiliki.
Semua permintaan itu dicatat. Dikerjakan. Diusahakan sebaik mungkin dan secepat waktu memungkinkan.
Karena yang mereka kerjakan bukan hanya soal fisik. Tapi soal rasa. Rasa aman. Rasa nyaman. Rasa dihargai. Kadang kita lupa, bahwa kampus bukan hanya tempat belajar, tapi tempat tumbuh. Dan untuk tumbuh, setiap pohon butuh tanah yang baik. Begitu juga manusia.
Sabrang pernah berkata, “Yang fisik memang bisa rusak, tapi semangat merawat tidak boleh patah.” Itulah yang sedang dilakukan Biro Aset hari-hari ini. Dalam hening, mereka memperbaiki bagian demi bagian. Mewujudkan janji UMS untuk selalu hadir, bahkan di hal-hal yang terlihat kecil.
Karena dari kursi yang diperbaiki, hingga stop kontak yang ditambah — semuanya adalah bagian dari ekosistem pendidikan yang utuh.
Bukan hanya memperbaiki, tapi merawat. Bukan hanya menyelesaikan, tapi membangun ulang makna.
Dan kita? Sudahkah cukup menghargai mereka yang bekerja tanpa disorot?
Jika kamu melangkah ke ruang yang kini lebih terang, atau duduk di kursi yang tak lagi goyah, sempatkan sejenak untuk mengucap dalam hati: terima kasih untuk yang telah memperbaiki. Karena mungkin, pekerjaan mereka tak masuk headline. Tapi diam-diam, mereka sedang menjadi bagian dari jalan panjang menuju peradaban yang lebih baik.
Renovasi bukan sekedar memperbaiki. Ia adalah cinta dalam bentuk lain. (ayn618)
