Bayangkan kampus itu seperti sebuah wayang kulit raksasa. Ada dalang yang menggerakkan semua tokoh, agar cerita berjalan lancar. Nah, di balik layar, bukan cuma dalang yang memegang kontrol utama, tapi juga ada sang pengatur lampu, pengatur angin, dan pengatur air — agar pertunjukan tak berhenti di tengah.
Hasyim Asy’ari, S.T., M.T., adalah dalang kecil itu. Kepala Subdirektorat Pengelolaan Sarana dan Prasarana. Dia bukan cuma tukang tata bangunan. Dia maestro yang menggerakkan orkestrasi para teknisi: tukang listrik yang nyalain lampu tanpa ngedip, teknisi AC yang bikin ruangan adem kayak hati nenek, tukang air yang jaga keran tetap setia mengalir, dan pekerja bangunan yang menjaga tiang tetap tegak berdiri seperti semangat mahasiswa ujung semester.
Dia tahu, kalau listrik mati, mahasiswa gelap-gelapan mikirnya jadi gelap juga. Kalau AC mati, peluh keringat campur tegang bisa bikin pikiran jadi kusut. Kalau air macet, yang ada bukan cuma tanaman yang mati, tapi juga semangat belajar yang meredup. Maka Hasyim ini, dengan cara yang kadang serius tapi seringkali jenaka, menggerakkan pasukan kecilnya agar semuanya berjalan seperti orkestra wayang yang penuh harmoni.
Bukan pekerjaan gampang, tentu saja. Tapi seperti kata Sujiwo Tejo: “Jangan jadi orang yang cuma ngatur jalan cerita, tapi jadi yang bisa ngatur angin dan air supaya cerita itu terasa hidup.” Nah, Hasyim sudah melakukan itu dengan caranya sendiri — dengan tangan yang kuat, kepala yang tenang, dan hati yang tahu kalau kampus bukan sekadar bangunan, tapi tempat tumbuhnya masa depan.
Jadi, lain kali kalau AC adem, lampu nyala, dan air lancar di kampus, ingatlah ada Abah Haji Hasyim dan para teknisinya yang sedang berdansa di balik layar, menggerakkan kehidupan kampus agar tetap berirama. (ayn618)
