Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Prof. Dochak Latief, Rektor UMS periode 1995–2004, telah pulang.
Kematian selalu memberi kita jeda. Ia memaksa kita berhenti sebentar dari rutinitas, lalu menatap ke arah yang lebih jauh daripada urusan sehari-hari. Ketika seorang guru besar, seorang pemimpin, seorang bapak bangsa seperti Prof. Dochak berpulang, kita diingatkan bahwa manusia bukan hanya kumpulan jabatan, catatan akademik, atau karya intelektual. Manusia adalah jejak yang ia tinggalkan di kesadaran orang lain.
Prof. Dochak bukan sekadar rektor yang membawa UMS pada masa perkembangan pentingnya. Ia adalah lanskap ide, nilai, dan teladan yang tertanam pada murid, kolega, dan masyarakat yang bersinggungan dengannya. Itu yang akan terus hidup, meski raganya sudah selesai menjalani tugas.
Kalau hidup ini perjalanan, maka beliau sudah tiba di stasiun terakhir di dunia. Tapi perjalanan tidak benar-benar usai—ia hanya berganti ruang, berganti dimensi. Kita yang masih hidup, diberi kesempatan untuk melanjutkan langkah dengan membawa cahaya kecil yang pernah beliau nyalakan.
Mari kita doakan: semoga Allah memberi tempat terbaik untuk beliau, menerima amalnya, mengampuni segala kekhilafannya, dan menjadikan karya-karyanya cahaya yang terus menerangi.
Karena sesungguhnya, manusia hanya benar-benar mati kalau kita berhenti belajar dari jejaknya. (ayn618)
