Air selalu jujur. Ketika jalannya terbuka, ia mengalir tanpa banyak bicara. Namun ketika jalurnya buntu, ia tidak memaksa—ia diam, menggenang, lalu mengirimkan pesan melalui banjir kecil. Bukan untuk mengganggu, tetapi mengingatkan bahwa ada aliran yang perlu diperbaiki.
Gedung J akhir-akhir ini menerima pesan itu.
Hujan yang semestinya menjadi berkah justru menimbulkan genangan; halaman yang harusnya nyaman dilalui berubah menjadi zona hindari-jejak-air. Mahasiswa melompat di antara titik kering, dan pegawai menyiasati langkah agar sepatu tidak basah. Saat itu, alam seakan bertanya:
“Kapan terakhir kali kalian mengecek aliranku?”
Jawabannya muncul melalui program Normalisasi Saluran Air Gedung J—sebuah upaya memperbaiki bukan hanya saluran fisik, tetapi juga pola pikir kita tentang perawatan lingkungan kampus. Karena jika saluran dibiarkan tersumbat, air tidak bisa salah; hanya manusia yang lupa merawat jalannya.
CV. Benny Karya Abadi bersama penanggung jawab teknis, Diana Wahyu Ningsih, S.T., serta pengawas lapangan Sunarna, mengambil peran dalam proses pemulihan ini. Mereka bukan sekadar menguras, menggali, atau mengganti pipa. Mereka mengembalikan arah aliran—membuka jalan bagi air untuk kembali menemukan tujuan alaminya: bergerak, bukan menetap.
Nilai proyek, termin pembayaran, hingga masa garansi 180 hari adalah struktur administratif yang mendampingi pekerjaan ini. Namun esensi terpentingnya lebih dalam: mencegah lebih bijak daripada memperbaiki setelah terlambat. Normalisasi ini adalah investasi—bukan hanya pada infrastruktur, tetapi pada kenyamanan dan keberlangsungan aktivitas akademik.
Karena sebenarnya, yang menjadi tantangan bukan genangan air.
Yang kita hadapi adalah kelalaian kecil yang dibiarkan tumbuh besar.
Hal-hal sepele seperti daun, pasir, dan sampah ringan bisa mengubah saluran rapi menjadi hambatan besar bila tidak disikapi rutin. Seperti hidup, masalah kecil yang tidak dibersihkan tepat waktu akan mengganggu aliran banyak hal.
Dengan langkah normalisasi ini, kita menegakkan kembali satu prinsip sederhana:
Aliran harus dijaga agar kehidupan bisa berjalan tanpa gangguan.
Ketika pekerjaan ini selesai, harapan kita tidak muluk-muluk:
Agar Gedung J tetap menjadi ruang nyaman untuk belajar, bekerja, dan berkegiatan—tanpa takut hujan membawa “drama air” yang tak perlu.
Air telah kembali menemukan jalurnya.
Sekarang tugas kita adalah menjaga agar aliran itu tidak tersumbat lagi.
Karena merawat aliran adalah merawat ritme kehidupan. (ayn618)
