Dari Ruang Latihan ke Ruang Kolaborasi: Transformasi Laboratorium Gizi FIK (Eks MENWA) sebagai Coworking Space Ilmu

Setiap ruang menyimpan memori tentang perannya. Ada ruang yang dulu penuh instruksi dan disiplin, ada ruang yang menjadi tempat persiapan mental, dan ada ruang yang akhirnya berevolusi mengikuti kebutuhan zaman. Namun ruang yang baik adalah ruang yang tidak berhenti pada masa lalu—ia terus hidup dan memberi manfaat bagi generasi berikutnya.

Ruang yang dahulu dikenal sebagai Markas MENWA kini memasuki babak baru:
bertransformasi menjadi Laboratorium Gizi FIK yang juga berfungsi sebagai coworking space akademik—ruang kolaborasi untuk belajar, berdiskusi, meneliti, dan menciptakan solusi bersama dalam bidang gizi dan kesehatan.

Coworking space di lingkungan kampus bukan hanya soal desain modern atau meja diskusi yang estetik.
Ia adalah cara baru dalam mengalami proses belajar: bahwa ilmu tumbuh lebih subur dalam percakapan, pertemuan pikiran, dan keberanian menantang asumsi.
Karena pemahaman gizi tidak cukup hanya dari teori—ia terwujud saat ilmu, kreativitas, dan kolaborasi bertemu.

Transformasi ini lahir dari visi Direktur Direktorat Aset, Sarana dan Prasarana (DASP), Taufiq Hidayat, S.E., yang mendorong agar ruang-ruang kampus tidak hanya dipelihara, tetapi di-upgrade menjadi ruang yang relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini. Di tingkat implementasi, pelaksanaan di lapangan dijalankan oleh M. Redwan Apriyanto, dengan pengawasan teknis oleh Ajis Wiyanto, serta arahan manajerial dari Hasyim Mas’ary selaku Kasubdit Pengelolaan Sarana dan Prasarana.

Mereka tidak sekadar memperbaiki bangunan; mereka sedang menyiapkan ekosistem ruang tumbuh—tempat mahasiswa membangun kompetensi, kreativitas, dan jejaring intelektual.

Administrasi proyek—nilai kontrak, termin pembayaran, hingga garansi 180 hari—adalah bentuk akuntabilitas agar kualitas pekerjaan dapat dirasakan dalam jangka panjang, bukan hanya selesai di atas kertas.

Lebih dari sekadar laboratorium untuk praktikum gizi, ruang ini dirancang sebagai ruang hidup bagi ide-ide baru:
• tempat riset dan inovasi gizi,
• ruang diskusi program kesehatan masyarakat,
• workshop pengembangan menu sehat,
• hingga kolaborasi lintas prodi dan fakultas.

Di coworking space ini, mahasiswa belajar bahwa gizi bukan hanya angka, tabel, dan kandungan nutrisi—tetapi tentang manusia, kebiasaan, budaya, dan keberlanjutan hidup.

Transformasi ini memberi pesan:
cara kita merawat ruang mencerminkan cara kita merawat masa depan pendidikan.

Ruang telah berubah fungsi.
Kini saatnya kita berubah cara memanfaatkannya—lebih terbuka, lebih kolaboratif, lebih berdaya guna.

Karena ruang yang baik bukan hanya tempat kita berada,
tetapi tempat yang mendorong kita berkembang, berjejaring, dan memberi manfaat bagi banyak orang.
(ayn618)