Merayakan Bangkitnya Kesadaran K3L di UMS

Di kampus ini, di antara riuh mahasiswa yang mengejar masa depan, kita sering lupa bahwa kehidupan tidak hanya ditopang oleh ilmu dan gelar, tetapi juga oleh napas yang tenang, langkah yang aman, dan lingkungan yang dirawat dengan cinta. Seperti kata para sesepuh, “Hidup itu bukan sekadar berjalan, tetapi memastikan pijakanmu tidak melukai bumi dan bumi tidak melukai dirimu.”

Kesadaran K3L—Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan—sebenarnya bukan barang baru. Ia seperti mata air tua yang sudah lama ada, tetapi baru terasa nilai surgawinya ketika kemarau kesadaran melanda. Banyak dari kita lewat di depannya, menunduk sedikit, tapi tak benar-benar minum. Hingga suatu hari kita sadar bahwa tanpa air itu, perjalanan kita akan kering, gersang, dan tak berarah.

Di UMS, kita sedang menyaksikan kebangkitan itu. Ada getaran baru. Seperti orang-orang yang tiba-tiba menemukan kembali mushaf lama yang berdebu, kini kita mulai membuka kembali halaman-halaman kesadaran yang sempat terlupakan. Kita mulai memahami bahwa K3L bukan sekadar rangkaian huruf formal administratif, tetapi laku hidup. Laku menjaga diri, menjaga sesama, dan menjaga semesta kecil yang kita tempati bersama.

Pak Sri Darnoto, S.K.M., M.P.H, sebagai Kasi Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan, sering mengingatkan bahwa keselamatan bukanlah aturan dari luar, melainkan kesadaran dari dalam. Bahwa kesehatan bukan sekadar berobat, tetapi merawat. Lingkungan bukan sebatas ruang, tetapi rumah tempat jiwa kita berteduh. Dan rumah, sebagaimana diajarkan oleh para guru kehidupan, harus dihormati, dibersihkan, dan dijaga.

UMS bukan hanya tempat belajar. Ia adalah miniatur peradaban. Apa yang kita lakukan di dalamnya—memilah sampah, menata ruang, memakai APD, memastikan gedung aman, menjaga kualitas udara, saling mengingatkan—adalah latihan kecil untuk hidup besar di masyarakat kelak. Bila kita bisa merawat kampus kecil ini, maka kita akan siap merawat negeri besar di luar sana.

Kesadaran K3L yang bangkit ini adalah tanda bahwa kita sedang tumbuh, bukan hanya sebagai akademisi, tetapi sebagai manusia. Manusia yang tak sekadar cerdas kepala, tetapi jernih hati dan halus perilaku. Manusia yang tidak hanya tahu teori keselamatan, tetapi mempraktikkannya sebagai bentuk ibadah kepada kehidupan.

Maka mari kita rayakan, bukan dengan tepuk tangan, tetapi dengan tindakan. Dengan langkah-langkah sederhana yang kita ulang setiap hari—menutup kembali pintu keselamatan yang terbuka, mematikan lampu yang tak terpakai, memberi ruang kepada udara untuk bernapas, dan memberi teladan kepada mereka yang mungkin belum menyadari.

Yang penting bukan seberapa besar acara atau programmu, tetapi seberapa tulus engkau hadir di dalam kehidupan.

Begitu pula K3L. Ia tidak menuntut kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kita hadir—sadar, peduli, dan bertanggung jawab.

Di UMS, kebangkitan itu sudah mulai terasa. Tinggal kita rawat bersama. (ayn618)