Hary Yudanto – Cerita Tentang Menjaga Titipan

Di kampus, seperti juga di kampung, selalu ada yang diam-diam bekerja. Tidak tampil di panggung, tidak banyak bicara, tapi kalau dia absen sehari saja—ada yang terasa hilang. Mungkin seperti listrik padam. Atau air sumur yang tak lagi mengalir.

Salah satu dari orang-orang itu di Universitas Muhammadiyah Surakarta adalah Hary Yudanto, S.E., yang hari ini dipercaya memimpin Subdirektorat Pengelolaan Aset. Sebuah jabatan yang kelihatannya teknis, administratif, dan penuh angka. Tapi kalau mau dilihat lebih dalam, ini pekerjaan yang spiritual.

Karena mengurus aset bukan sekadar mencatat barang. Ini soal menjaga titipan. Menjaga amanah yang nilainya bukan hanya tertera di neraca, tapi juga di hati orang-orang yang menggunakannya.

Kalau kursi patah, dia tahu siapa yang harus dikabari. Kalau komputer hilang, dia bukan cuma cari, tapi juga mikir: kenapa bisa hilang? Dan kalau ada barang baru datang, dia ingin pastikan itu bukan sekadar memenuhi gudang—tapi benar-benar dibutuhkan, dan akan berguna.

Pak Hary bukan sekadar petugas aset. Dalam bahasa Cak Nun, mungkin beliau ini muadzin logistik. Yang mengumandangkan peringatan bahwa semua yang kita miliki itu fana. Yang abadi hanya cara kita merawatnya.

Karena di kampus, kita tak hanya belajar tentang teori. Kita juga belajar dari orang-orang yang bekerja dalam diam. Mereka yang mencatat, merawat, dan memelihara—agar ilmu bisa berjalan tanpa tergelincir oleh kerusakan meja atau rusaknya sistem.

Jadi kalau hari ini kita bisa duduk nyaman di ruang kuliah, bisa pinjam proyektor tanpa ribut, bisa lihat kampus tetap tertata… sebagian itu adalah doa-doa diam dari orang seperti Pak Hary. Dan doa-doa itu, seperti biasa, tak pernah minta dikenal. Tapi justru karena itulah ia bekerja. (ayn618)