Belajar Hukum Tidak Cukup Hanya dengan Membaca Hukum
Ada pengetahuan yang bisa diperoleh dari buku. Ada pula pengetahuan yang baru benar-benar dipahami ketika seseorang mengalaminya. Hukum termasuk salah satunya. Mahasiswa dapat membaca berbagai teori, pasal, putusan, dan konsep hukum. Tetapi memahami bagaimana sebuah argumentasi disampaikan, bagaimana seseorang mempertahankan pendapat, atau bagaimana menghadapi pandangan yang berbeda membutuhkan pengalaman.
Laboratorium peradilan semu menjadi ruang untuk mengalami hal tersebut. Di sana mahasiswa tidak hanya membaca tentang bagaimana sebuah persidangan berlangsung, tetapi mencoba memainkan peran di dalamnya. Mereka belajar berbicara, mendengarkan, menyusun argumentasi, memahami posisi pihak lain, sekaligus belajar bahwa keputusan tidak selalu sesederhana hitam dan putih.
Dan mungkin justru di situlah nilai penting sebuah pendidikan. Kampus bukan tempat yang menuntut manusia untuk selalu benar sejak awal. Kampus adalah tempat seseorang diberi kesempatan untuk salah dengan aman, lalu belajar dari kesalahan tersebut. Ruang praktik seperti ini menjadi jembatan antara apa yang dipelajari di atas kertas dengan dunia yang kelak akan mereka hadapi.
